Fenomena bediding kembali menjadi perbincangan hangat di Indonesia setelah membuat suhu udara menjadi dingin secara tidak biasa selama musim kemarau. Istilah ini menggambarkan kondisi cuaca yang unik, di mana malam dan pagi hari terasa sangat dingin meskipun sedang dalam periode kemarau.
Apa sebenarnya penyebab bediding? Bagaimana penjelasan BMKG serta dampak yang terjadi pada lingkungan dan kesehatan? Kami akan bahas tuntas di artikel berikut. Yuk, simak!
Istilah bediding yang berasal dari kata Jawa “bedhihing” menggambarkan situasi iklim dengan temperatur yang sangat rendah di waktu malam hingga pagi, terutama selama periode kemarau. Berbeda dengan dingin pada musim hujan yang umum terjadi, bediding hadir ketika radiasi permukaan bumi berkurang drastis akibat minimnya tutupan awan.
Menurut data terbaru BMKG pada Juli 2025, fenomena ini terjadi karena pergerakan angin muson timur yang membawa massa udara dingin dari Australia. Angin ini bergerak melewati wilayah Indonesia bagian selatan, menciptakan kondisi atmosfer yang unik dan membuat suhu turun secara signifikan.
Fenomena bediding bukan peristiwa gaib atau keanehan, tetapi merupakan kejadian alami yang berulang tiap tahun pada Juli hingga September. Secara meteorologis, bediding terjadi karena kombinasi beberapa faktor, di antaranya:
Wilayah pegunungan dan dataran tinggi menjadi yang paling terdampak karena karakteristik geografisnya:
| Wilayah | Suhu Minimum | Karakteristik |
| Desa Sumber Brantas | 9°C | Puncaknya terjadi saat awal pagi |
| Dieng, Wonosobo | -4° sampai -2°C | Munculnya embun upas |
| Malang | 17°C | Lebih rendah dari normal |
| Surabaya | 22°C–23°C | Siang panas (35°C), malam membeku |
| Stasiun Frans Sales Lega, NTT | 12°C (8/7/2025) serta 8,4°C (2024) | Suhu minimum yang ekstrem lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya |
| Lembang | < 15°C | Suhu bisa turun hingga di bawah 15°C di daerah pegunungan |
| Jakarta | 22–23°C | Wilayah perkotaan, malam terasa lebih dingin |

Fenomena bediding memiliki beberapa dampak signifikan, antara lain:
Para petani di wilayah Jawa, Bali, dan NTB melaporkan dampak signifikan pada tanaman hortikultura. Temperatur rendah yang tidak wajar berpotensi menimbulkan kerusakan pada komoditas pertanian yang rentan, termasuk tomat, lombok, dan tanaman hijau lainnya.
Di Banyuwangi, fenomena ini bahkan mempengaruhi kesehatan hewan ternak, dengan laporan peningkatan kasus penyakit pada kucing dan anjing akibat perubahan suhu yang drastis.
Fenomena bediding tidak hanya membuat udara lebih dingin; ada sejumlah dampak yang bisa terjadi:
Menurut prakiraan terbaru BMKG, kondisi temperatur rendah abnormal ini diperkirakan masih akan terjadi sampai penghujung bulan September 2025. Intensitas tertinggi diprediksi terjadi pada Agustus, ketika angin muson timur mencapai kekuatan maksimal. Wilayah yang akan paling terdampak meliputi:
Untuk mengantisipasi dampak negatif, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah preventif:
Uniknya, bediding juga menjadi bagian dari budaya masyarakat, khususnya di Jawa. Banyak yang menganggap momen ini sebagai waktu yang tepat untuk minum jamu hangat, seperti wedang jahe, mengenakan sarung atau selimut tebal, bahkan ramai-ramai menyalakan api unggun di desa-desa.
Para pakar cuaca menghubungkan makin kuatnya bediding dengan dampak dari perubahan iklim global. Pola angin muson timur menjadi lebih tidak terprediksi, menciptakan kontras suhu yang lebih ekstrem antara siang dan malam hari.
Mengutip unggahan Instagram Radar Jogja dan laman situs INews Jatim fenomena serupa pernah terjadi pada 2019 dan 2022, namun intensitas 2025 tercatat lebih tinggi. Hal ini menunjukkan perlunya adaptasi jangka panjang dalam menghadapi variabilitas cuaca yang semakin tinggi.
BMKG memprediksi fenomena suhu dingin musim kemarau ini akan bertahan hingga akhir September 2025, bersamaan dengan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
Namun, beberapa ahli geografi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) juga menyebut bahwa suhu dingin bisa melandai lebih awal, tergantung pada perubahan pola monsun dan kelembapan atmosfer.
Fenomena bediding adalah bagian dari siklus musim kemarau yang biasa terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia. Meski bukan bencana, efek dari suhu dingin musim kemarau ini tetap perlu diantisipasi, terutama oleh masyarakat yang tinggal di dataran tinggi.
Meski menjadi tantangan bagi kesehatan dan aktivitas sehari-hari, masyarakat dapat beradaptasi dengan menerapkan langkah-langkah sederhana yang direkomendasikan BMKG. Tetap jaga kesehatan, ikuti info dari BMKG, dan nikmati suasana unik musim kemarau tahun ini!
Butuh info penting lain yang bermanfaat? Ayo baca artikel menarik seputar kesehatan dan gaya hidup di blog WeCare.id! Install aplikasi WeCare.id supaya Sobat WeCare dapat memperoleh informasi dan update ulasan dengan lebih praktis.
Referensi
Aufa, M. I. (2025). Bukan Sekadar Dingin, Fenomena Bediding di Banyuwangi Bikin Anabul Diserang Penyakit. Diambil kembali dari timesindonesia.co.id.
Bestireina. (2025). Fenomena “Bediding” di Jawa: Penjelasan Ilmiah dari Dosen Geografi UMS. Diambil kembali dari news.ums.ac.id.
Fauziyyah, Z. Z. (2025). Fenomena Bediding: Pengertian hingga Penyebabnya. Diambil kembali dari www.metrotvnews.com.
Midaada, A. (2019). Fenomena Langka, Suhu Dingin di Malang hingga 14 Derajat Celcius. Diambil kembali dari news.id.
Mutiarasari, K. A. (2025). Fenomena Bediding Diperkirakan sampai September 2025, Ini Faktornya. Diambil kembali dari news.detik.com.
RadarJogja. (2022). Fenomena Bediding di DIJ, Suhu Dingin di Tengah Musim Kemarau [Instagram post]. Diambil kembali dari https://www.instagram.com/p/Cgiy7IChf8b/.
StaklimPalembang. (2021). Fenomena Udara Dingin (Bediding) Pada Musim Kemarau. Diambil kembali dari staklim-sumsel.bmkg.go.id.
Suhu Dingin Fenomena Bediding, Sampai Kapan dan Apa Penyebabnya? (2025). Diambil kembali dari www.cnnindonesia.com.
Tim PRMN 12. (2024). Southern Indonesia Colder than Usual Lately, Here’s BMKG’s Explanation. Diambil kembali dari /www.pikiran-rakyat.com.
Wibawana, W. A. (2025). Fenomena Bediding Bikin Suhu Dingin di Musim Kemarau, Ini Penjelasannya. Diambil kembali dari news.detik.com.
Yuvina. (2024). The Bediding Phenomenon is back! Extreme cold in Java, Indonesia. Diambil kembali dari medicalchannelasia.com.
Sumber Featured Image : Christian Abella dari Pixabay