Menerima kenyataan dan bersyukur atas apa yang dimiliki adalah dua hal yang terdengar sederhana. Namun dalam pelaksanaannya masih banyak yang belum mampu melaksanakannya dengan baik. Padahal hanya dengan dua kunci ini, hidup yang kita jalani bisa berubah dengan drastis.
[wecare_plugin slug=’bharisman’]
Menerima kenyataan yang terjadi pada diri kita berarti kesediaan untuk mentolerir situasi yang sulit. Kita memiliki pilihan untuk menerima kondisi yang terjadi pada diri kita. Pilihan inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Pilihan yang tepat tentunya dapat membawa perubahan drastis dalam hidup.
Untuk mencapai tingkat penerimaan yang tinggi, ada beberapa tahapan yang harus dijalani.
Terkadang kita melakukan penyangkalan atas apa yang terjadi pada diri kita, baik secara sadar ataupun tidak. Rintangan pertama ini yang dapat menghalangi diri kita untuk menerima kondisi seutuhnya.
Menerima kenyataan bukan berarti mengabaikan emosi dan perasaan kita sendiri, tapi berusaha untuk terus menjalani hidup setelah musibah yang menimpa kita. Dengan menerima kondisi, bukan berarti kita habiskan waktu untuk meratapinya. Sebaliknya, carilah kekuatan agar kita bisa terus melangkah.
Tahap kedua yang harus dijalani untuk dapat menerima kenyataan adalah amarah. Hal ini wajar terjadi, apalagi jika kita alami musibah yang berat, seperti kematian. Sayangnya banyak orang yang mengatasi amarah justru dengan menekannya.
Amarah adalah tahapan penting dalam proses penyembuhan. Karena itu, cobalah untuk lebih mendalami amarah kita, alasan dibaliknya, dan akibatnya. Semakin kita pahami amarah kita, semakin cepat kita dapat menerima kenyataan.
Selanjutnya, kita berharap untuk bisa mendapatkan sesuatu yang sudah hilang dalam hidup kita. Kita mungkin juga siap untuk menukarnya dengan hal terpenting dalam hidup kita. Jika kita berada dalam tahap ini, kata-kata pengandaian sering digunakan, sebagai ungkapan dari rasa bersalah yang kita alami.
Setelah selesai tawar-menawar dengan takdir, kita akan merasakan kehampaan dalam diri kita. Rasa hampa ini dapat memicu depresi. Tahap ini merupakan tahap penting untuk dapat menerima kenyataan bahwa kita harus melangkah dan menjalani hidup yang berbeda ke depannya.
Dengan menerima kondisi yang dihadapi saat ini berarti kita menerima kesalahan atau musibah yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Dengan begitu, kita bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini dan melakukan perubahan yang diperlukan untuk tetap bersemangat menjalani hari.
Hidup Nenek Isah Bergantung pada Mesin Cuci Darah Akibat Alami Gagal Ginjal Kronis Stadium 5!
Rasa duka terhadap musibah yang kita alami sering kali membuat kita lupa dengan apa yang sudah kita miliki, bahkan dapat juga menjadi penghalang untuk dapat menerima kenyataan hidup. Dengan bersyukur, kita bisa berhenti mengasihani diri kita dan mendapatkan 7 manfaatnya, antara lain:
Mengungkapkan rasa syukur ternyata bukan hanya menunjukkan rasa terima kasih pada apa yang kita dapatkan. Dengan menunjukkan penghargaan ini juga ternyata bisa membawa kita untuk bertemu dengan teman-teman baru. Hal ini berdasarkan pada sebuah studi tahun 2014 yang dipublikasikan di Emotion.
Sebuah studi pada tahun 2012 yang berjudul Personality and Individual Differences menunjukkan bahwa orang yang bersyukur mengalami rasa sakit yang lebih sedikit dan merasa lebih sehat. Karena itu tidak aneh jika mereka cenderung menjaga kesehatan fisik mereka.
Robert Emmons telah melakukan berbagai studi yang berhubungan dengan rasa syukur dan kesehatan. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa rasa syukur dapat meningkatkan rasa bahagia dan menurunkan kadar depresi.
Orang yang bersyukur cenderung memiliki empati yang tinggi dan jiwa pendendam yang rendah. Hal ini didasarkan pada studi yang dilakukan Universitas Kentucky pada tahun 2012.
Dalam studi tahun 2011 yang dipublikasikan dalam Applied Psychology: Health and Well-Being, terungkap bahwa rasa syukur dapat meningkatkan kualitas tidur. Caranya cukup dengan meluangkan 15 menit sebelum tidur dengan menuliskan hal-hal kecil yang bisa disyukuri agar kita dapat tidur lebih nyenyak.
Uang dan jabatan adalah beberapa hal yang dapat menurunkan kepercayaan diri. Namun studi yang dirilis dalam Journal of Applied Sport Psychology pada 2014 menunjukkan bahwa rasa syukur menjadi elemen penting untuk meningkatkan kinerja secara optimal. Studi lainnya juga menunjukkan bahwa rasa syukur dapat mengurangi efek dari perbandingan status sosial.
Banyak studi menunjukkan bahwa rasa syukur bukan hanya dapat mengurangi stres, tapi juga memainkan peran penting dalam mengatasi trauma. Studi yang dilakukan pada 2006 dan dipublikasikan dalam jurnal Behaviour Research and Therapy menunjukkan bahwa para veteran Perang Vietnam dengan rasa syukur yang lebih tinggi memiliki tingkat stres traumatis yang rendah.
Menerima keadaan dan juga bersyukur terhadap apa yang kita miliki memegang peranan penting dalam mengubah hidup. Membangun kepedulian terhadap sesama juga bisa menjadi cara untuk mencapai tingkat penerimaan dan rasa syukur yang lebih tinggi. Sambil belajar untuk menerima keadaan dan lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki, yuk bantu juga pasien tidak mampu yang mengidap berbagai penyakit yang membutuhkan bantuan dana. Caranya cukup download aplikasi WeCare.id di Google Play atau App Store untuk donasi mudah dan praktis kapan saja.
Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!
[wecare_plugin slug=’kurbanesia2021′]
Hersh, D. M. (2016). Acceptance and Gratitude Together Reduce Burnout, Promote Resilience. Diambil kembali dari thethrivingtherapist.org
Kessler, D. (N/A). The Five Stages of Grief. Diambil kembali dari grief.com
Mignona, M. (N/A). 5 Unique Ways to Practice the Art of Gratitude. Diambil kembali dari happiermindjournal.com
Morin, A. (2015). 7 Scientifically Proven Benefits of Gratitude. Diambil kembali dari psychologytoday.comThwink. (N/A). Cycle of Acceptance. Diambil kembali dari thwink.org