Vitamin D dalam perannya untuk menjaga daya tahan tubuh mungkin relatif kurang populer jika dibandingkan vitamin C. Sebelumnya vitamin D lebih dikenal sebagai nutrisi yang sangat dibutuhkan untuk membentuk tulang dan gigi yang kuat, sejak pandemi Covid-19 melanda dengan gencarnya himbauan di sana-sini, masyarakat pun kian menyadari pentingnya mencukupi asupan vitamin D untuk menaikkan imun. Lewat ulasan berikut, kita kupas lebih lanjut apakah vitamin yang juga disebut dengan nama kalsiferol ini benar-benar dapat memperkecil risiko terkena Covid-19.
Erkalsitriol atau yang lebih umum disebut vitamin D2 dan kalsitriol atau vitamin D3 adalah dua bentuk aktif dari vitamin D yang memegang peranan signifikan pada berbagai proses di tubuh kita.
Ergokalsiferol yang merupakan bentuk tidak aktif dari vitamin D2 adalah turunan dari senyawa organik lemak sterol atau steroid dan bagian dari kolesterol. Di ginjal, ergokalsiferol dikonversi ke bentuk aktif oleh hormon paratiroid. Sementara kolekalsiferol yang berasal dari turunan senyawa 7-dehidrokolesterol membutuhkan bantuan sinar matahari untuk menjadi bentuk aktif kalsitriol.
Di dalam tubuh, vitamin D akan diubah menjadi hormon kalsitriol yang berfungsi memperlancar penyerapan dan penyaluran kalsium. Saat tubuh mengalami kekurangan kalsium, kelenjar paratiroid akan menstimulasi usus dan ginjal agar menghasilkan vitamin D. Tanpa vitamin D, tubuh hanya dapat menyerap 10-15% kalsium.
Alami Luka Infeksi Akibat Patah Tulang Terbuka, Hafidzah Butuh Pertolonganmu Segera!
Kalsitriol juga bersifat anti-proliferasi yang membantu mencegah penyakit-penyakit degeneratif. Kandungan 25-hydroxyvitamin D membuat imunitas menjadi lebih kuat dalam menangkal berbagai infeksi terutama penyakit saluran nafas atas karena virus.
Mengacu pada tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan RI, orang dewasa hingga usia 70 tahun membutuhkan setidaknya 15 mcg vitamin D setiap hari. Vitamin D dapat diperoleh dari makanan, suplemen, dan sinar matahari.
Ergokalsiferol dan kolekalsiferol berasal dari sumber yang berbeda. Ergokalsiferol sumbernya dari makanan sementara kolekalsiferol asalnya dari senyawa 7-dehidrokolesterol yang terdapat pada lapisan epidermis dan dermis kulit manusia namun memerlukan paparan cahaya matahari untuk menjadi aktif.
Seperti telah disampaikan sebelumnya, senyawa 7-dehidrokolesterol yang berada di lapisan kulit kita membutuhkan terpaan cahaya matahari untuk menjadi bentuk aktif. Kita hanya perlu berjemur selama 5-30 menit sebanyak dua sampai tiga kali seminggu, dengan catatan sekurang-kurangnya 20% dari permukaan kulit harus benar-benar terkena sinar matahari. Waktu terbaik untuk berjemur di sekitar pukul 11-14, semakin memuncak sinar UVB maka durasi berjemur bisa lebih dipersingkat.
Vitamin D yang bersumber dari makanan terbagi menjadi tiga, yaitu: ASI, asli, dan suplemen.
Selain perannya dalam pembentukan tulang dan gigi, vitamin D memiliki banyak manfaat bagi tubuh di antaranya menopang kerja sel darah putih, membantu tubuh dalam menghasilkan insulin, melindungi fungsi paru-paru dan jantung, juga menghindarkan dari sejumlah penyakit.
Terkait Covid-19, Grant et al (2020) menyatakan bahwa vitamin D konsentrasi tinggi berperan dalam menurunkan risiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), termasuk pada infeksi yang disebabkan virus corona. Dengan pertimbangan tersebut maka vitamin D layak direkomendasikan sebagai opsi untuk pengobatan dan pencegahan Covid-19.
Mengingat pandemi yang telah berjalan lebih dari satu tahun, donasi darimu akan sangat bermanfaat bagi pasien dan mereka yang terdampak. Untuk berdonasi, klik https://wecare.id/ atau download aplikasi WeCare.id melalui Playstore dan App Store.
Referensi: