Mengutip dari laman ugm.ac.id jumlah penderita hidrosefalus bawaan (kongenital) berdasarkan catatan dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2013, sebanyak 14.216 – 18.955. Kebanyakan dari mereka berasal keluarga tidak mampu sehingga mereka terlambat memeriksakan anaknya.
Apa itu hidrosefalus?
Hidrosefalus adalah penumpukan cairan di rongga otak yang mengakibatkan tekanan pada otak sehingga bisa merusaknya. Hidrosefalus berasal dari kata Yunani ‘hydro’ untuk air dan ‘cephalus’ untuk kepala.
Disebut dengan cairan serebrospinal, cairan ini terdiri dari air, gula mineral, dan nutrisi. Cairan ini diproduksi secara terus-menerus oleh otak dengan kecepatan per harinya 500 mL. Fungsi utama cairan serebrospinal adalah untuk melindungi otak di rongga tengkorak.
Apa Penyebab Hidrosefalus?
Hidrosefalus terjadi akibat dari penyumbatan aliran cairan serebrospinal, atau ketidakmampuan tubuh untuk menyerapnya. Jumlah cairan ini bisa meningkat bila:
Penumbukan cairan ini akan membuat otak terlalu tertekan. Tekanan ini bisa menyebabkan pembengkakan otak, yang bisa merusak jaringan otak. Jika tidak diobati, hidrosefalus mengakibatkan gangguan penglihatan, gangguan fungsi mental, kesulitan berjalan, dan penurunan kondisi kesadaran.
Penyebab yang Mendasari Hidrosefalus
Hidrosefalus, dalam beberapa kasus, dimulai sebelum bayi lahir. Kondisi ini sebagai akibat dari:
Kondisi seperti ini juga bisa dialami oleh bayi, balita, dan anak yang lebih besar dikarenakan:
Jenis-Jenis Hidrosefalus
Terdapat beberapa jenis hidrosefalus, di antaranya:
Hidrosefalus didapat (Acquired Hydrocephalus), yaitu hidrosefalus yang terjadi setelah lahir, biasanya setelah stroke, tumor otak, meningitis, atau akibat cedera kepala yang serius.
Hidrosefalus non obstruktif (Communicating Hydrocephalus), yaitu jenis hidrosefalus yang terjadi ketika cairan serebrospinal tersumbat setelah keluar dari ventrikel atau rongga di otak. Ini disebut “communicating” karena cairan serebrospinal masih bisa mengalir di antara ventrikel otak.
Hidrosefalus obstruktif (Non-Communicating Hydrocephalus), yaitu hidrosefalus yang terjadi ketika sambungan tipis antara ventrikel tersumbat.
Hidrosefalus tekanan normal (Normal Pressure Hydrocephalus), yaitu hidrosefalus yang hanya mempengaruhi orang yang berusia 50 atau lebih. Kondisi ini terjadi setelah stroke, cedera, infeksi, pembedahan, atau perdarahan. Namun, dalam banyak kasus, dokter tidak mengetahui mengapa hal itu bisa terjadi.
Hidrosefalus bawaan (Congenital Hydrocephalus), yaitu hidrosefalus yang terjadi karena penumpukan cairan serebrospinal berlebih di otak saat lahir. Cairan ekstra tersebut dapat meningkatkan tekanan pada otak bayi, menyebabkan kerusakan otak serta masalah mental dan fisik. Kondisi ini jarang terjadi.
Hydrocephalus Ex-Vacuo, yaitu jenis hidrosefalus yang terjadi setelah stroke, cedera otak traumatis, atau penyakit degeneratif. Saat jaringan otak menyusut, ventrikel otak menjadi lebih besar.
Gejala hidrosefalus
Bayi
Tanda dan gejala hidrosefalus pada bayi termasuk:
Anak-anak yang lebih tua, Dewasa muda, dan Dewasa Paruh Baya
Gejala pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa di antaranya:
Orang tua
Gejala pada orang tua, di antaranya:
Bagaimana Cara Mengobati Hidrosefalus?
Jika tidak segera ditangani, hidrosefalus bisa berakibat fatal. Kerusakan otak yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki meskipun sudah dilakukan pengobatan. Tujuan dari pengobatan adalah untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut. Pengobatan ini termasuk melibatkan pemulihan aliran cairan serebrospinal yang normal. Pilihan operasi yang disarankan oleh dokter adalah sebagai berikut:
Operasi Shunt
Dalam kebanyakan kasus, shunt (alat kesehatan yang dipasang dengan tujuan untuk melepaskan tekanan pada otak) dimasukkan melalui pembedahan. Shunt merupakan sistem drainase yang terbuat dari tabung panjang dengan katup. Katup ini membantu aliran cairan serebrospinal pada kecepatan normal dan ke arah yang benar. Caranya yaitu dengan memasukan salah satu ujung tabung di otak dan ujung lainnya ke dada atau rongga perut. Cairan yang berlebih tersebut kemudian mengalir dari otak dan keluar dari ujung lain tabung, sehingga lebih mudah diserap. Biasanya implan shunt bersifat permanen dan harus dipantau secara teratur.
Ventrikulostomi
Sebagai alternatif untuk pemasangan shunt dilakukanlah prosedur ventrikulostomi atau endoscopic third ventriculostomy. Prosedur ini melibatkan pembuatan lubang di bagian bawah ventrikel otak atau di antara ventrikel yang memungkinkan cairan serebrospinal keluar dari otak. Berdasarkan hasil penelitian dari Islamic Azad University, Tehran, Iran yang diterbitkan pada jurnal Basic and Clinical Neuroscience, pada bayi dengan hidrosefalus, pengobatan awal dengan endoscopic third ventriculostomy (ETV) lebih layak dibandingkan operasi shunt. Pada orang dewasa dengan hidrosefalus, kegagalan awal pada ETV terjadi lebih cepat dibandingkan dengan terapi shunt, tetapi, ETV lebih efisien.
Mengurangi Risiko Hidrosefalus
Hidrosefalus tidak dapat dicegah, tetapi Anda dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit ini dengan cara sebagai berikut:
Banyak pasien-pasien hidrosefalus yang kurang mampu sehingga tidak bisa berobat dengan optimal karena keterbatasan ekonomi yang mereka miliki. Bantu pasien-pasien hidrosefalus di https://wecare.id/patient/?q=hidrosefalus , berapapun bantuanmu hari ini sangatlah berarti!
Sumber: