Semenjak kasus anak pejabat direktorat pajak yang terkena masalah penganiayaan, warganet sekarang gencar mengunggah foto-foto anak serta istri pejabat pemerintah yang gemar memamerkan pakaian, tas atau barang mewah lainnya di media sosial. Istilah yang sering digunakan untuk menyebut perilaku ini adalah flexing.
Alami Kanker Mata Hingga Bola Matanya diangkat, Yahya Butuh Pertolonganmu Segera!
Flexing berarti memamerkan pakaian, tubuh, gaya hidup, mobil, rumah, atau segala hal yang dianggap penting bagi ego seseorang secara terbuka. Sikap “pamer” ini dilakukan di depan orang lain yang membuat orang memikirkan orang yang pamer tersebut dengan cara tertentu.
Perilaku flexing sering kali dilakukan sebagai upaya untuk memperlihatkan keberhasilan dan prestise seseorang dalam masyarakat, meskipun beberapa orang juga melakukannya sebagai cara untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. Selain itu, pamer ini dilakukan untuk mendapatkan pengakuan atau penghormatan.
Namun, tak sedikit orang yang melakukan flexing untuk mendapatkan endorsement, bahkan untuk mencari pasangan hidup. Akan tetapi, sikap pamer yang berlebihan bisa juga menunjukkan sifat sombong, perhatian diri yang berlebihan, atau bahkan gangguan kepribadian.
Mengapa orang gemar flexing di media sosial bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Biasanya orang pamer karena beberapa alasan, di antaranya:
Dengan memamerkan keberhasilan dan prestise, seseorang mungkin merasa lebih percaya diri dan bersemangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Ketika memamerkan kekayaan, kemampuan, atau status sosial, seseorang berharap akan dilihat sebagai seseorang yang sukses dan dihormati oleh orang lain.
Seseorang mungkin merasa penting untuk menunjukkan status sosial mereka, terutama jika mereka merasa bahwa status sosial mereka dianggap rendah oleh masyarakat.
Dengan memamerkan hal-hal yang menarik perhatian orang lain, seseorang dapat memperoleh perhatian yang diinginkan dari orang lain, khususnya dalam era media sosial di mana popularitas dan jumlah pengikut menjadi penting.
Beberapa orang mungkin merasa bahwa dengan memamerkan keberhasilan dan prestise mereka, mereka dapat mempertahankan citra diri yang kuat dan positif di hadapan orang lain.
Walaupun tujuan flexing bisa sebagai strategi marketing agar bisa meraih untung besar, jika tindakan show off ini dilakukan dengan tujuan memamerkan kekayaan, tentunya hal ini juga bisa memberikan dampak negatif, di antaranya:
Secara keseluruhan, flexing dapat berdampak negatif pada kesehatan mental seseorang, dan penting bagi seseorang untuk menemukan keseimbangan antara membanggakan diri sendiri dan menjaga kesehatan mental mereka.
[wecare_plugin slug=’mimi’]
Agar terhindar dari perilaku flexing yang sekarang ini marak dilakukan orang-orang di media sosial, perlu kontrol diri. Berikut adalah beberapa cara yang dapat membantu seseorang menghindari perilaku pamer atau mengurangi dampak negatif:
Maraknya perilaku flexing di media sosial, sudah meresahkan sehingga para pakar pun ikut berkomentar, seperti Rhenald Kasali yang membahas tema ini di channel YouTube pribadinya. Daripada pamer, yuk lebih baik perbanyak donasi untuk membantu para pasien yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan. Kamu bisa mempercayakan donasimu di WeCare.id. Caranya mudah, kok. Cukup buka situs web WeCare.id atau unduh aplikasi WeCare.id di di Google Play atau App Store untuk donasi mudah dan praktis kapan saja.
Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!
Aeni, S. N. (2022). 5 Faktor Pendorong Perilaku Flexing yang Perlu Diketahui. Retrieved from katadata.co.id.
Ananda. (2023). Flexing: Pengertian, Penyebab, Akibat, dan Cara Menghindarinya. Diambil kembali dari gramedia.com.
Fernanda, E. (2022). Marak di Media Sosial, Ini 4 Dampak Flexing bagi Kesehatan Mental. Diambil kembali dari parapuan.co.
Ika. (2023). Dosen UGM Beberkan Alasan Orang Berperilaku Flexing. Diambil kembali dari ugm.ac.id.
Ivanacete. (2023). 5 Cara Mengendalikan Diri Agar Tidak Menjadikan Flexing sebagai Kebiasaan, Simak deh! Diambil kembali dari beautynesia.id.
Kusumastuti, R. A. (2023). Mengenal Apa Itu Flexing dan Dampaknya pada Kesehatan Mental. Diambil kembali dari health.kompas.com.
Landhiani, J. N. (2023). 3 Dampak Negatif Flexing, Mulai dari Pencurian hingga Kebencian. Diambil kembali dari trenasia.com.
Samosir, C. (2023). Dampak Flexing Pada Gangguan Kesehatan dan Cara Mengendalikannya. Diambil kembali dari kids.grid.id.What is “Flexing”? And Why You Shouldn’t. (2018). Diambil kembali dari strategylab.ca.
Sumber Featured Image : freestocks on Unsplash