Akhir-akhir Indonesia mengalami anomali cuaca sebagai dampak perubahan iklim. Melansir laman situs The Conversation contoh dari anomali cuaca adalah musim hujan yang telat datang sekitar 50 hari. Musim hujan baru muncul di awal Januari 2024 disebabkan oleh fenomena iklim El Nino. Ada juga banjir rob yang terjadi di pantai selatan Jawa sampai Bali di akhir Mei sampai awal 2020 yang terbentuk karena squall line.
Alami Kelainan Jantung Bawaan, Kirana Butuh Biaya untuk Berobat!
Perubahan iklim di Indonesia disebabkan oleh urbanisasi, deforestasi, industrialisasi, dan faktor alam seperti pergeseran kontinen dan letusan gunung berapi. Pertumbuhan penduduk, pembangunan kota, industri, lalu lintas, dan deforestasi berkontribusi pada perubahan iklim. (Dampak dan Perubahan Iklim di Indonesia, 2013).
Perubahan cuaca dan bencana yang merupakan dampak perubahan iklim di Indonesia disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia sehari-hari. Melansir laman situs Lingkungan Hidup, perubahan iklim di Indonesia disebabkan oleh tiga aktivitas masyarakat, yaitu:
Energi listrik sangat penting, namun penggunaannya yang berlebihan dapat memicu pemanasan global karena pembangkit listrik merupakan penghasil gas emisi karbon terbesar kedua. Oleh karena itu, kita perlu menggunakan listrik secara bijak untuk mengurangi dampaknya terhadap bumi.
Kendaraan pribadi memerlukan bahan bakar yang menghasilkan gas karbon dioksida, penyebab utama pemanasan global. Menggunakan transportasi umum dapat membantu mengurangi emisi karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Proses produksi makanan menghasilkan gas emisi karbon dan metana, terutama dari penggundulan hutan, pembuatan lahan pertanian, dan gas metana dari hewan ternak. Mengurangi konsumsi protein hewani seperti daging dapat membantu mengurangi emisi gas dibandingkan dengan produksi protein nabati.
Pemanasan global bukan sekadar isu. Dampak perubahan iklim ini sudah dirasakan di semua negara, tak terkecuali Indonesia. Perubahan iklim membawa dampak yang signifikan bagi Indonesia, mempengaruhi berbagai aspek lingkungan dan kehidupan. Berikut ini beberapa efek pemanasan global yang terjadi di Indonesia yang dirangkum dari beberapa sumber:
Di Indonesia, kejadian, lamanya, dan tingkat keparahan gelombang panas semakin meningkat. Ini berdampak pada kesehatan, pertanian, dan infrastruktur, serta dapat menyebabkan kematian bahkan bagi orang muda dan sehat. Salah satu kota di Indonesia yang tiap tahun merasakan panas ekstrem ini adalah Jakarta. Ditambah dengan emisi tinggi, ini akan menghasilkan suhu yang mematikan.
Kenaikan suhu mengurangi produksi beras hingga 30% di beberapa wilayah, dan penurunan curah hujan dapat meningkatkan defisit beras. Kenaikan suhu juga menurunkan hasil panen kakao dan kopi, serta kelapa sawit.
Permukaan air laut diperkirakan naik 63-132 cm pada 2100, mengakibatkan kerugian ekonomi besar, banjir, hilangnya lahan, dan migrasi penduduk. Akibat lainnya adalah kerusakan ekosistem seperti terumbu karang yang melindungi pesisir.
Wilayah Indonesia bagian selatan mengalami penurunan curah hujan, sedangkan wilayah utara mengalami peningkatan curah hujan. Musim hujan lebih pendek di wilayah selatan menyulitkan upaya meningkatkan indeks pertanaman (IP) tanpa varietas tanaman berumur pendek dan rehabilitasi jaringan irigasi. Wilayah utara menghadapi peningkatan indeks penanaman dengan kondisi lahan yang kurang baik.
Perubahan iklim mempengaruhi besaran dan distribusi air, dengan tempat kering mengalami kekeringan lebih hebat dan tempat basah menghadapi kondisi lebih basah. Peningkatan ketersediaan air dapat mengakibatkan banjir, erosi, dan tanah longsor.
Terumbu karang sangat rentan terhadap kenaikan suhu, yang dapat menyebabkan pemutihan dan menurunkan kualitas serta fungsi terumbu karang.
Perubahan iklim dapat menurunkan PDB per kapita Indonesia secara signifikan. Dengan emisi tinggi, PDB bisa merosot hingga 78% pada akhir abad ini, dan Indonesia dapat kehilangan hingga 40% PDB pada 2050.
Kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra sering kali dipicu oleh aktivitas manusia dan diperparah oleh perubahan iklim, menyebabkan kerugian ekonomi besar dan dampak kesehatan serius.
Perubahan iklim mengancam produksi beras dan perikanan, yang merupakan sumber makanan pokok dan penghasilan utama. Berkurangnya hasil panen dan tangkapan ikan dapat meningkatkan risiko malnutrisi.
Peningkatan curah hujan ekstrem meningkatkan risiko banjir di berbagai wilayah Indonesia, merugikan ekonomi dan infrastruktur.
[wecare_plugin slug=’kirana’]
Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan diakibatkan oleh polusi udara, cuaca ekstrem, penyakit, peningkatan kelaparan juga gizi buruk, salah satu masalah yang masih dihadapi Indonesia. Gizi buruk membuat banyak anak Indonesia mengalami stunting. Salah satu faktor penyebab stunting adalah kemiskinan, selain lingkungan dan kurangnya pengetahuan.
Kemiskinan membuat para orang tua tidak bisa memberikan nutrisi yang cukup bagi anak-anak mereka. Bantuan dari TemanPeduli akan sangat berarti bagi anak-anak stunting yang berasal dari keluarga tidak mampu tersebut. TemanPeduli dapat membantu mereka dengan memberikan donasi melalui WeCare.id, bisa melalui situs web WeCare.id atau aplikasi WeCare.id.
Yuk, mari bantu anak-anak stunting dan mereka yang membutuhkan bantuan bersama WeCare.id!
Julismin. (2013). Dampak Dan Perubahan Iklim Di Indonesia. Jurnal Geografi. Diambil kembali dari jurnal.unimed.ac.id.
Kasus Perubahan Iklim di Indonesia. (2023). Diambil kembali dari lindungihutan.com.
Kurniawan, A. A., Khoiromah, S., Wordley, C., & Dillon, W. (2022). Dampak Perubahan Iklim di Indonesia.
Penyebab Dan Dampak Perubahan Iklim. (2022). Diambil kembali dari indonesia.un.org.Yulihastin, E. (2024). Kenali 3 jenis cuaca ekstrem yang merusak akibat perubahan iklim di Indonesia. Diambil kembali dari theconversation.com.