Beberapa waktu lalu kita dikagetkan dengan berita penganiayaan yang dilakukan oleh seorang anak pejabat Dirjen Pajak terhadap seorang anak berusia 17 tahun yang bernama David Ozora Latumahina. Dikarenakan penganiayaan yang diterimanya, David mengalami koma selama 14 hari. Disebutkan kalau David menderita Diffuse Axonal Injury.
Cedera kepala seringkali terjadi pada anak-anak dan dewasa. Salah satu jenis cedera otak traumatik yang paling umum dan mematikan adalah Diffuse Axonal Injury (DAI) atau Cedera Aksonal Difus (CAD).
Diffuse Axonal Injury adalah jenis cedera pada otak yang terjadi akibat pergeseran yang cepat dari otak di dalam tengkorak saat terjadinya cedera. Akibatnya, serat-serat yang menghubungkan sel-sel otak yang disebut akson menjadi terputus atau robek karena percepatan dan perlambatan yang terjadi secara cepat di dalam tengkorak yang keras.
Biasanya Diffuse Axonal Injury menyebabkan cedera pada banyak bagian otak, dan orang yang mengalami DAI umumnya terjaga dalam keadaan koma. Perubahan di otak sering sangat kecil dan sulit dideteksi menggunakan CT atau MRI.
[wecare_plugin slug=’zihan-novalino’]
Diffuse Axonal Injury disebabkan oleh guncangan kepala yang kuat dan tiba-tiba, seperti kecelakaan mobil atau benturan keras pada kepala. Berikut ini adalah beberapa penyebab umum dari DAI:
Cedera ini dapat terjadi pada berbagai tingkat keparahan, tergantung pada seberapa besar guncangan yang dialami.
Diffuse Axonal Injury mengakibatkan akson menjadi robek pada beberapa wilayah otak. Oleh sebab itu, orang yang menderita DAI mungkin mengalami berbagai efek sekunder dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
Berikut adalah beberapa gejala Diffuse Axonal Injury:
Penting untuk diingat bahwa tidak semua orang yang mengalami Diffuse Axonal Injury akan mengalami semua gejala ini dan gejalanya bisa muncul secara bertahap dalam beberapa hari atau minggu setelah cedera.
Apakah Otak Akan Pulih Kembali Setelah Mengalami Cedera?
Berdasarkan hasil sebagian besar studi pada umumnya sel-sel otak yang rusak atau hancur tidak akan bisa pulih. Namun, beberapa pasien mungkin mengalami pemulihan penuh setelah beberapa minggu atau bulan, terutama pada orang yang lebih muda, sebab dalam beberapa kasus, area lain dari otak dapat menggantikan jaringan yang terluka. Sedangkan yang lain, kemungkinan mengalami kerusakan otak yang permanen.
Pasien yang mengalami Diffuse Axonal Injury kerap memerlukan perawatan jangka panjang dan rehabilitasi untuk membantu memperbaiki gejala yang terkait dengan cedera otak. Proses pemulihan setelah DAI bisa memakan waktu dan memerlukan perawatan yang berkelanjutan.
Sejak Usia 3 bulan Kepalanya Kian Membesar, Guntur Butuh Pertolonganmu!
Pengobatan Diffuse Axonal Injury bertujuan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada jaringan otak dan meminimalkan gejala yang terkait dengan cedera tersebut. Beberapa opsi pengobatan yang mungkin direkomendasikan oleh dokter termasuk:
Tujuannya adalah untuk membantu pasien memulihkan kemampuan fisik dan kognitif yang hilang akibat cedera otak.
Apa yang menimpa David saat ini merupakan kondisi cedera otak yang serius, sehingga mengakibatkan dirinya belum sadar sepenuhnya. Diffuse Axonal Injury juga bisa terjadi pada bayi yang diguncang-guncangkan, jadi orang tua perlu berhati-hati ketika mengasuh anaknya.
Tak hanya kondisi Diffuse Axonal Injury yang bisa terjadi pada anak-anak, beberapa penyakit lain pun kerap membuat nyawa mereka terancam dan membutuhkan pengobatan dengan biaya besar sehingga membutuhkan bantuan biaya pengobatan. Kita bisa membantu mereka dengan berdonasi melalui WeCare.id. Cukup dengan mengunjungi situs web WeCare.id atau mengunduh aplikasi WeCare.id di Google Play atau App Store untuk donasi mudah dan praktis kapan saja.
Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!
Rehab, F. (2021). Diffuse Axonal Injury: Symptoms, Recovery, and Treatment. Diambil kembali dari flintrehab.com.
Traumatic Brain Injury. (2019). Diambil kembali dari hopkinsmedicine.org.Young, B. (2018). Diffuse Axonal Injury. Diambil kembali dari Healthline.com.
Sumber Featured Image : Olga Guryanova on Unsplash