Pernah mendengar istilah mom shaming? Ini adalah fenomena psikologis yang terjadi di masyarakat. Mengutip laman situs Kompas, kasus mom-shaming di Indonesia mencapai 72% menurut studi terbaru Health Collaborative Center. Yang luput dari perhatian para pemberi komentar adalah dampak mom shaming pada kesehatan mental, terutama ibu baru.
Sederhananya, mom shaming adalah tindakan mengkritik atau pun mempermalukan seorang ibu. Tindakan ini sering kali dilakukan oleh sesama ibu. Perbuatan mom shaming ini tak mengenal tempat, bisa dilakukan secara langsung, di grup chat, atau di media sosial. Apa yang mereka komentari? Umumnya tentang pilihan gaya pengasuhan seseorang.
Contoh komentarnya, “Kok anaknya dikasih susu formula?” atau “Kok anaknya dititip di daycare!” Mereka tidak menyadari bahwa komentar sederhana ini bisa berdampak besar pada kesehatan mental seorang ibu.
Rumah Sakit Anak C.S. Mott, Michigan melakukan jajak pendapat nasional dan hasilnya 61% ibu pernah dikritik soal cara mereka mengasuh anak. Kritik paling sering datang dari pasangan atau orang tua lain (36%), mertua (31%), dan orang tua kandung (37%). Kritik dari teman, ibu lain di tempat umum, media sosial, penyedia layanan kesehatan anak, dan penyedia penitipan anak juga ada, meski lebih sedikit.
Sebanyak 23% ibu pernah dikritik oleh tiga kelompok atau lebih. Akibatnya, 62% ibu merasa mendapat banyak nasihat tidak berguna dan 56% merasa terlalu sering disalahkan dan kurang dihargai. Topik kritik yang paling umum adalah disiplin (70%), pola makan dan gizi (52%), tidur (46%), pemberian ASI vs ASI/formula menggunakan botol (39%), keamanan (20%), serta pengasuhan anak (16%).
[wecare_plugin slug=’sedekahquranbraille’]
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apa yang membuat orang-orang berani melakukan hal ini? Apakah mereka tidak pernah memikirkan efek perkataan mereka pada kesehatan mental orang yang dikomentarinya, terlebih lagi untuk seorang wanita yang baru saja menjadi ibu? Nah, ada beberapa alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut, berikut di antaranya:
Mengasuh anak bisa membuat bosan. Jadi, debat tentang cara pengasuhan menjadi semacam hiburan.
Terkadang, orang tua yang sedang marah pada anaknya bisa saja melampiaskan kemarahan kepada orang lain.
Melihat ibu lain tampak lebih sukses atau anaknya lebih baik bisa memunculkan rasa iri.
Seseorang yang merasa tak cukup baik sebagai ibu terkadang merendahkan ibu lain supaya dirinya merasa lebih baik.
Berikut ini beberapa contoh situasi di mana mom shaming sering terjadi:
Ibu yang memilih untuk menjadi “full-time mom” sering mendapat komentar sinis seperti, “Pasti enak ya, bisa main-main dengan anak sepanjang hari.” Padahal, menjadi ibu rumah tangga itu pekerjaan yang berat.
Ketika ada ibu yang memilih untuk memberikan susu formula pada anaknya, banyak orang langsung mengeluarkan pendapat tentang menyusui. Komentar yang tampak biasa ini bisa membuat seorang ibu menjadi stres dan pastinya mempengaruhi kesehatan mentalnya. Mungkin saja ibu tersebut sudah berjuang keras, tapi karena alasan tertentu memilih untuk memberikan susu formula.
Tak hanya IRT yang terkena mom shaming, ibu bekerja pun sama. Masih banyak yang berharap ibu menanggung semua beban pekerjaan rumah tangga. Ibu yang memilih untuk bekerja sering dianggap kurang bertanggung jawab. Padahal mungkin ada alasan ekonomi yang membuat ibu tersebut akhirnya harus bekerja.
Membandingkan diri dengan ibu lain—siapa yang lebih baik, siapa yang punya anak lebih pintar—bisa membuat semua orang stres. Akhirnya kesehatan mental ibulah yang terganggu.
Saat anak tidak mencapai kemajuan perkembangan anak yang sama dengan anak lain, ibu bisa merasa tertekan dan khawatir. Akhirnya dia melontarkan kritikan untuk menutupi rasa malunya.
Bantu Wujudkan Sintang Bebas dari Stunting
Mom shaming bukan hanya membuat perasaan seseorang terluka, tapi juga bisa memberi dampak yang cukup serius pada kesehatan mental khususnya para ibu baru. Berikut ini adalah beberapa dampak yang dapat dirasakan oleh para ibu:
Hasil jajak pendapat yang dilakukan RS Anak C.S. Mott menyebutkan sekitar 42% ibu yang mendapat kritik merasa tidak yakin dengan pilihan mereka. Ketidakpastian ini bisa membuat mereka ragu dalam membuat keputusan sehari-hari.
Ketika mendapatkan banyak kritik, seorang ibu bisa jadi sangat cemas dan berusaha untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Banyak ibu yang merasa terasing setelah mendapatkan kritik, merasa tidak didukung oleh orang di sekitar mereka.
Stres ini bisa berujung pada kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan.
Seorang ibu yang mendapatkan mom-shaming sering kali menghindari orang-orang yang kritis, yang membuat mereka merasa terisolasi.
Kritikan bisa membuat seorang ibu merasa perlu membandingkan dirinya dengan yang lain, yang hanya menciptakan siklus negatif.
Untuk menghindari kritik, seorang ibu mungkin merasa terpaksa untuk mengubah cara mereka mengasuh anak, meskipun itu bukan yang terbaik.
Kritik dari anggota keluarga dapat menciptakan ketegangan dalam hubungan, merusak dukungan yang seharusnya ada dalam keluarga.
Bagaimana caranya menghadapi mom shaming? Pertama, tetaplah berpikiran positif. Fokus pada hal baik yang sudah dilakukan sebagai ibu, ingat bahwa tidak ada ibu yang sempurna, dan teruslah belajar. Jangan biarkan komentar negatif tersebut membuat kesehatan mental kita jadi hancur. Yang juga penting, jangan biarkan pendapat negatif orang lain memengaruhi cara kita merawat anak.
Dukungan dari keluarga sangat penting. Keluarga, suami, teman, dan komunitas ibu harus jadi support system yang baik. Kalau perlu, jangan ragu untuk mencari bantuan dari profesional. Ingat, semua ibu berhak merasa didukung, bukan dihakimi. Kita semua butuh dukungan dan dorongan untuk jadi ibu yang baik.
Daripada sibuk memberi komentar yang merusak kesehatan mental orang lain, lebih baik lakukan aksi nyata yang berdampak baik, seperti berdonasi. Banyak orang yang membutuhkan bantuan pengobatan. Mari berdonasi bagi mereka yang membutuhkan lewat WeCare.id. Buka situs web WeCare.id atau unduh aplikasi WeCare.id di App Store atau Google Play, kemudian kirimkan donasi. Semudah itu!
Yuk, mari ulurkan tangan untuk membantu sesama bersama dengan WeCare.id.
Sumber Featured Image : Muhamad Harun Rabiyudin on Unsplash
(2017). Mom shaming or constructive criticism? Perspectives of mothers. Mott Poll .
Mom-Shaming: Why We Do It and How to Deal with It. (2020). Diambil kembali dari hammondpsychology.com.
Ramadhian, N. (2024). Tak Cuma Mental, Mom-Shaming Pengaruhi Fisik dan Kehidupan Sosial Ibu. Diambil kembali dari lifestyle.kompas.com.
Risser, M. (2022). Mom Shaming: Definition, Examples, & How to Cope. Diambil kembali dari choosingtherapy.com.Sahal, U. (2022). Psychology Lecturer Reveals the Dangers of Mom Shaming and Its Impact on Mother’s Mentality. Diambil kembali dari um-surabaya.ac.id.