Peran agama dalam kesehatan mental sangat penting bagi kesejahteraan jiwa seseorang. Islam, sebagai agama yang mengatur aspek kehidupan spiritual dan sosial, memberikan solusi komprehensif untuk menjaga dan memperkuat kesehatan mental.
Dalam dunia yang penuh tekanan dan permasalahan, terutama di era modern ini, kehadiran ajaran Islam dapat menjadi panduan yang menenangkan dan menguatkan jiwa, baik dari sisi spiritual maupun psikologis. Bagaimana cara agama membantu kesehatan mental? Baca ulasan lengkapnya di sini.
Gangguan kesehatan mental merupakan persoalan yang semakin penting dan nyata di Indonesia. Di Indonesia sendiri, survei tahun 2023 menemukan bahwa 1,4% penduduk mengalami depresi, dengan angka tertinggi pada kelompok usia muda 15-24 tahun mencapai 2%.
Pada remaja usia 10-17 tahun, survei tahun 2022 mencatat bahwa 5,5% mengalami gangguan mental. Dari jumlah itu, 1% menderita depresi, 3,7% mengalami kecemasan, dan ada pula yang mengalami PTSD serta ADHD. Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat angka depresi pada populasi remaja hingga dewasa muda (15-24 tahun) berada di level 6,2%.
Dalam konteks ini, peran agama dalam kesehatan mental semakin relevan sebagai solusi alternatif dan pelengkap untuk memperkuat ketangguhan jiwa.
Ajaran Islam mengajarkan agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah melalui salat, doa, dan dzikir. Praktik-praktik ini tidak hanya sebagai bentuk ibadah, tetapi juga sebagai metode efektif meredakan stres dan kecemasan.
Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat, seorang psikolog muslim dan pelopor psikologi Islam di Indonesia, menekankan bahwa agama berfungsi sebagai bimbingan hidup, penolong dalam kesukaran, dan penenang batin.
Beliau berpendapat bahwa mempraktikkan agama dalam kehidupan sehari-hari dapat melindungi seseorang dari gangguan mental dan juga dapat memulihkan kesehatan mental orang yang cemas.
Semakin dekat seseorang dengan Tuhan dan semakin banyak ia beribadah, semakin tenteram jiwanya dan semakin besar kemungkinan ia akan menghadapi kekecewaan, kesulitan, dan rintangan dalam hidupnya. Sebaliknya, semakin jauh seseorang dari agama, maka semakin besar kemungkinan ia akan mengalami gangguan mental.
Islam menganjurkan kita untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Menurut Ustaz Dr. Ruslan Faryadi (Majelis Tarjih Muhammadiyah), kesehatan sejati terwujud ketika ketiganya harmonis . Prinsip ini tercermin dalam:
Firman Allah SWT:
Praktik spiritual dalam Islam berfungsi sebagai terapi preventif dan kuratif, meliputi:
Al-Quran mengajarkan bahwa ujian berupa ketakutan, kesedihan, atau kehilangan adalah sunatullah:
Kisah para nabi seperti Nabi Yakub yang bersedih hingga buta, atau Nabi Muhammad yang mengalami “Tahun Kesedihan”, menunjukkan bahwa emosi manusiawi bukan aib. Islam mendorong kita untuk:
Konsep tawakal mengajarkan menghadapi segala kesulitan dengan percaya bahwa Allah yang menata segalanya, sehingga mengurangi kecemasan dan ketakutan berlebihan dalam hidup.
Menurut Ibnu Mas’ud, ayat Al-Quran yang paling gamblang menjelaskan tentang tawakal adalah firman Allah Ta’ala.
Rasulullah bersabda:
Kesehatan fisik dan mental saling terhubung. Islam menganjurkan:
Islam melarang isolasi sosial. Nabi menganjurkan silaturahmi dan menjauhi lingkungan toksik
Selain itu:
Meminta bantuan ahli adalah sunnah. Nabi bersabda:
Komunitas religius seperti majelis taklim menjadi support system untuk berbagi beban psikologis.
Islam menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman, dan lingkungan sosial sebagai sumber kekuatan emosional yang memperkuat mental.
Pendidikan agama Islam memperkuat karakter dan ketakwaan, yang membantu individu mampu mengenali, mengelola, dan mengatasi emosi negatif. Hal ini penting dalam menjaga keseimbangan mental—menghindarkan dari gangguan seperti kecemasan dan stres berlebihan.
Peran agama dalam kesehatan mental dalam Islam adalah solusi komprehensif yang memadukan ikhtiar lahiriah (konseling, olahraga) dan batiniah (doa, zikir). Kunci utamanya terletak pada tiga prinsip:
Pendekatan ini tidak hanya menenangkan jiwa, tetapi juga melindungi dari gangguan pikiran dan membantu memulihkan ketenangan batin.
Dengan menggabungkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan mental menjadi lebih terjaga dan seseorang mampu menghadapi tantangan hidup dengan kepala dingin dan hati yang tenang.
Jadi, jangan lupa kunjungi blog kami, WeCare.id untuk mendapatkan Info lebih banyak yang dapat menunjang kesehatan fisik dan kesejahteraan mental Sobat WeCare.
Referensi
11 Cara Menjaga Kesehatan Mental Menurut Islam yang Bisa Anda Terapkan. (2025). Diambil kembali dari www.shariaknowledgecentre.id.
Aisy, I. R. (2023). Islam sebagai Solusi: “Islam dan Kesehatan Mental” Menyikapi Kekhawatiran dari Perspektif Islam. Diambil kembali dari science.uii.ac.id.
Ard. (2025). Terapi Kesehatan Mental Menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah. Diambil kembali dari news.uad.ac.id.
BKPK, K. (2024). Depresi pada Anak Muda di Indonesia. Diambil kembali dari repository.badankebijakan.kemkes.go.id.
Joseph, N. (2021). 5 Peran Agama untuk Kesehatan Mental. Diambil kembali dari hellosehat.com.
Kamaluddin, M. (2025). ”MENGISI KEKOSONGAN JIWA: Rahasia Ketenangan yang Hilang di Tengah Kesibukan”. Diambil kembali dari uin-alauddin.ac.id.
Lubis, A. (2016). Peran Agama dalam Kesehatan Mental. Diambil kembali dari www.neliti.com.
Maulita, S. D., dkk. (2025). Peran Agama Terhadap Pengaruh Kesehatan Mental pada Mahasiswa:. Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam.
Mianoki, A. (2022). Tawakal dalam Setiap Keadaan. Diambil kembali dari muslim.or.id.
Tips Menjaga Kesehatan Mental ala Islam, Berdasar Al-Quran dan Hadis Nabi. (2024). Diambil kembali dari www.dompetdhuafa.org.
Zainuddin, M. (2013). TERAPI JIWA MENURUT ISLAM. Diambil kembali dari uin-malang.ac.id.
Sumber Featured Image : Masjid Pogung Dalangan di Unsplash