Kita semua tahu bahwa memiliki pandangan hidup yang positif itu baik untuk kesehatan mental. Tapi ternyata pola pikir seperti ini bisa memaksa kita untuk menjadi lebih egois dan mudah tertipu. Kondisi ini yang disebut dengan toxic positivity.
Daftar isi:
Toxic positivity adalah suatu kondisi ketika kita berpura-pura merasa bahagia dan ceria, walau kenyataannya tidak seperti itu. Kebahagiaan palsu ini yang sering disarankan banyak orang untuk menghibur kamu.
Biasanya toxic positivity ini muncul dalam dua bentuk. Pertama, bentuk toxic positivity yang kamu alami dari seseorang atau justru kamu berikan pada orang lain. Sedangkan bentuk kedua adalah bentuk toxic positivity yang kamu berikan pada diri sendiri.
Ada beberapa hal yang menandai seseorang yang mengalami toxic positivity. Kamu juga mungkin mengalaminya jika kamu memiliki tanda-tanda berikut ini:
Alami Infeksi pada Tulang Belakang, Bu Munipah Butuh Pertolongan Segera!
Toxic positivity bisa memberikan efek negatif pada mereka yang sedang melalui masa-masa sulit. Beberapa dampak yang dialami antara lain:
Saat seseorang sedang mengalami tekanan mental, mereka akan cenderung mencari cara untuk mengatasinya melalui keluarga dan teman. Namun orang yang memiliki cara berpikir toxic positivity justru menganggap bahwa emosi yang dirasakan orang-orang tersebut adalah hal yang salah. Akhirnya sang korban merasa malu untuk mengungkapkan rasa frustrasi mereka.
Toxic positivity biasanya akan membuat kamu merasa bersalah saat kamu tidak bisa menemukan sisi positif dari kejadian yang menimpa kamu.
Toxic positivity berfungsi sebagai sebuah mekanisme untuk menghindar. Jadi bukannya menunjukkan emosi kamu yang sebenarnya, kamu mungkin cenderung berusaha untuk menghindarinya dengan berbagai cara.
Melalui sebuah kondisi mental bisa membantu kita untuk tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa. Namun toxic positivity cenderung menghalangi proses perubahan mental tersebut.
[wecare_plugin slug=’khitanan-anak-yatim’]
Jika kamu merasa telah mengalami hal ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar kamu bisa memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Beberapa tips yang bisa kamu ikuti seperti berikut ini:
Emosi negatif dapat berkembang menjadi stres jika diabaikan. Tapi emosi ini juga dapat memberikan perubahan dalam hidup kamu. Jadi jangan abaikan perasaan kamu.
Saat menghadapi situasi yang penuh tekanan, kamu bisa saja merasa stres. Kamu mungkin merasa stres, khawatir, atau bahkan takut. Tapi yang terpenting, cobalah untuk bersikap realistis terhadap perasaan kamu sendiri.
Ketika seseorang mengungkapkan perasaannya, jangan menutupnya dengan kata-kata hampa. Sebaliknya, biarkan mereka tahu bahwa apa yang mereka rasakan adalah normal dan kamu ada di sana untuk mendengarkan.
Sering kali kita memilih kata-kata yang keliru saat berusaha untuk menghibur orang lain atau diri sendiri. Karena itu, cobalah untuk menghindari kata-kata toxic positivity ini:
Alangkah baiknya, jika kamu mengganti kata-kata diatas dengan kata-kata berikut:
Toxic positivity sering kali tidak terasa. Bahkan kita semua mungkin pernah mengalaminya. Dengan belajar mengenalinya, kamu akan lebih bisa menerima keadaan dengan cara yang lebih baik lagi.
Jaga selalu kesehatan mentalmu dan jangan lupa juga untuk meluangkan waktu dengan membantu pasien tidak mampu yang mengidap berbagai penyakit.
Kamu juga bisa berdonasi lebih mudah melalui aplikasi WeCare.id. Caranya, download aplikasi WeCare.id di ponselmu. Donasi yang kamu berikan tentu sangat berharga untuk teman-teman yang membutuhkan.
Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!
[wecare_article_support]
Cherry, Kendra (2021). What Is Toxic Positivity? verywellmind.com
Gross, J.J., & Levenson, R.W. (1997) Hiding feelings: The acute effects of inhibiting negative and positive emotion. thepsychologygroup.com
Edwards, Vanessa Van. Toxic Positivity: Why Positive Vibes are Ruining You. scienceofpeople.com