Dikenal juga sebagai penyakit tangan, kaki dan mulut, flu Singapura, umumnya disebabkan oleh sekelompok virus yang disebut enterovirus. Penyakit tangan, kaki, dan mulut memang umum terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun, tetapi tak hanya anak-anak, siapa pun bisa tertular. Biasanya penyakit ini tidak serius, tetapi sangat menular. Penyakit ini menyebar dengan cepat di sekolah dan pusat penitipan anak.
[wecare_plugin slug=’assyifa-p’]
Biasanya orang yang terkena flu Singapura mengalami gejala antara tiga sampai tujuh hari setelah terinfeksi.
Anak-anak sering mengalami demam dan gejala mirip flu lainnya tiga sampai enam hari sesudah mereka tertular virus. Gejala dirasakan di antaranya:
Satu atau dua hari sesudah mengalami demam, anak mungkin mengalami sariawan yang menyakitkan atau herpangina. Luka ini biasanya berawal dari bintik merah kecil yang melepuh dan bisa menjadi nyeri. Seringkali muncul di bagian belakang mulut.
Tanda-tanda kemungkinan akan merasa kesakitan saat menelan, di antaranya:
Anak-anak bisa mengalami ruam kulit di telapak tangan dan telapak kaki. Bisa juga muncul di siku, lutut, atau di area genital.
Ruam biasanya tampak seperti bintik merah datar, terkadang disertai lepuh. Cairan dalam lepuh dan keropeng yang terbentuk saat lepuh sembuh mungkin mengandung virus yang menyebabkan penyakit tangan, kaki, dan mulut. Jaga agar lecet atau koreng tetap bersih dan hindari menyentuhnya.
Sangat jarang terjadi virus mampu mempengaruhi lapisan otak atau sumsum tulang belakang, mengakibatkan gejala yang lebih parah seperti kejang, kebingungan, ketidakstabilan, dan lemah.
Infeksi ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan dari kulit yang melepuh, kotoran hidung dan tenggorokan (termasuk air liur, dahak atau lendir hidung), tetesan (bersin, batuk) dan feses (tinja). Kebersihan pribadi yang baik penting untuk mencegah penyebaran infeksi ke orang lain.
Cuci tangan secara menyeluruh setelah menyentuh cairan pada tubuh anak, termasuk setelah menyentuh luka lepuh mereka, membantu mereka meniup hidung mereka, dan mengganti popok atau membantu dengan toilet.
Pastikan anak tidak berbagi barang seperti peralatan makan, gelas minum, handuk, sikat gigi, dan pakaian.
Jangan biarkan anak pergi ke sekolah, taman kanak-kanak atau penitipan anak sampai semua cairan di lepuhnya mengering.
Penyakit flu Singapura adalah penyakit ringan yang sembuh dalam beberapa hari. Tidak ada pengobatan khusus dan biasanya tidak diperlukan.
Gunakan parasetamol (bukan aspirin) seperti yang diarahkan untuk demam dan ketidaknyamanan. Berikan banyak cairan, tetapi hindari jus jeruk, yang bersifat asam yang dapat menyebabkan nyeri pada sariawan. Biarkan luka lepuh mengering secara alami. Jangan memecahkan luka lepuh, karena cairan di dalamnya dapat menular.
Jika seorang anak yang menderita flu Singapura mengeluh sakit kepala parah, jika demam terus berlanjut, jika ada gejala yang mengkhawatirkan, segera bawa ke dokter.
Kebersihan pribadi yang baik sangat penting untuk mencegah penyebaran flu Singapura ke orang lain, baik bagi mereka yang terinfeksi ataupun bagi yang merawatnya. Cara pencegahannya termasuk:
Segera temui dokter bila:
Itulah informasi penting mengenai flu Singapura yang perlu diwaspadai oleh orang tua ketika sudah melihat gejalanya pada anak. Jaga kesehatan anak agar terhindar dari penyakit tersebut. Selain itu, jangan lupa untuk meluangkan waktu dengan membantu pasien tidak mampu yang mengidap berbagai penyakit.
Kamu juga bisa berdonasi lebih mudah melalui aplikasi WeCare.id. Caranya, download aplikasi WeCare.id di ponselmu. Donasi yang kamu berikan tentu sangat berharga untuk teman-teman yang membutuhkan.
Yuk, ulurkan tanganmu untuk bantu sesama bersama WeCare.id!
[wecare_plugin slug=’bantu-rafly’]
Be Careful of the Singapore Flu (Hand, Foot and Mouth Disease) on Your Little One. (2019). Diambil kembali dari morinagaplatinum.com.
Hand, foot and mouth disease. (2016). Diambil kembali dari betterhealth.vic.gov.au.
Hand, foot and mouth disease. (2018). Diambil kembali dari rch.org.au.Symptoms and Diagnosis of Hand, Foot, and Mouth Disease. (2021). Diambil kembali dari cdc.gov.
Sumber Featured Image : Freepik.com