Kasus cacar monyet atau Monkeypox (Mpox) kembali muncul di Indonesia. Berdasarkan data Kemenkes, hingga 22 Oktober 2023, terdapat 7 kasus konfirmasi monkeypox di Indonesia, semuanya ditemukan di DKI Jakarta. Mayoritas pasien adalah laki-laki usia produktif, dengan rentang usia 25-39 tahun.
Dari hasil penelusuran, 6 pasien juga merupakan orang dengan HIV (ODHIV) dan memiliki orientasi biseksual. Saat ini, seluruh pasien sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kemenkes juga sedang memantau orang-orang yang melakukan kontak erat dengan pasien.
[wecare_plugin slug=’untukpalestina’]
Menyusul penambahan kasus cacar monyet atau monkeypox di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergegas melakukan upaya penanggulangan. Untuk mencegah penyebaran virus, Kemenkes akan melakukan vaksinasi Monkeypox pada populasi yang paling berisiko, yaitu laki-laki yang dalam 2 minggu terakhir melakukan hubungan seksual berisiko dengan sesama jenis dengan atau tanpa status ODHIV.
Selain itu, adan dilakukan juga pemberian vaksinasi yang akan dimulai pada 24 Oktober 2023 di fasilitas pelayanan kesehatan di Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Barat. Stok vaksin aman, dengan sebanyak 991 vial vaksin yang telah didistribusikan ke Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
Mpox, cacar air, dan campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Ketiga penyakit ini memiliki beberapa kesamaan, seperti gejala demam, ruam, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Namun, ada juga beberapa perbedaan penting di antara ketiga penyakit ini, seperti:
Selain itu, ada gejala yang menjadi ciri khas Mpox yang tidak ditemui di cacar air dan campak yaitu pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala ini seringkali dapat dirasakan oleh penderita di area leher, selangkangan, dan ketiak.
Meski cacar monyet dianggap tidak berbahaya, beda cerita dengan cacar air dan campak. Keduanya bisa menyebabkan komplikasi bahkan kematian. Misalnya saja cacar air bisa jika tidak diobati dengan benar bisa menyebabkan pneumonia viral. Penyakit ini penyebab paling serius yang dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa yang mengalami komplikasi akibat cacar air.
Menurut data WHO pada tahun 2019, pneumonia adalah penyebab 14% dari seluruh kematian anak yang berusia di bawah 5 tahun. Jumlah total kematian, yaitu 740.180 jiwa. Di antara pasien pneumonia tersebut banyak yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan. Mari bantu mereka dengan berdonasi melalui WeCare.id. Donasikan bantuan melalui situs web WeCare.id atau aplikasi WeCare.id yang bisa diunduh di Google Store atau App Store. Apa pun dan berapa pun donasi yang kamu berikan akan sangat membantu pasien yang membutuhkan.
Yuk, donasi sekarang melalui WeCare.id!
Apa Gejala Cacar Monyet? Kenali Fasenya! (2022). Diambil kembali dari ciputrahospital.com.
Bagaimana Pengobatan untuk Pasien Konfirmasi MonkeyPox? (2022). Diambil kembali dari indonesiabaik.id.
Casilao, J. L. (2022). What’s the difference between monkeypox, chickenpox, and measles? Diambil kembali dari gmanetwork.com.
Hatim, F. (2022). World Pneumonia Day 2022. Diambil kembali dari yankes.kemkes.go.id.
Muhammad, S. (2023). Dokter jelaskan perbedaan gejala cacar monyet, cacar air, dan campak. Diambil kembali dari antaranews.com.
Myhre, J. & Sifris, D. (2023). Mpox vs. Chickenpox: What Are the Differences? Diambil kembali dari verywellhealth.com.
Rokom. (2023). Kasus Monkeypox Bertambah di Indonesia Akibat Sex Berisiko. Diambil kembali dari sehatnegeriku.kemkes.go.id.Rokom. (2023). Waspada, Campak jadi Komplikasi Sebabkan Penyakit Berat. Diambil kembali dari sehatnegeriku.kemkes.go.id.
Sumber Featured Image : Gerd Altmann dari Pixabay